Leap Logo

Latah Keren-Kerenan jadi UX Designer? Jangan!

LP

Leap by Telkom

03 Agu 2022 15.13 WIB

portrait

Jika Leapers melihat tampilan suatu situs atau aplikasi yang bagus, barangkali yang ada di benak adalah ‘siapa yang membuatnya sekeren ini?’ Begitu pun sebaliknya, jika tampilannya membingungkan mungkin Leapers akan berpikir, ‘siapa yang mengacaukannya?’.

Seperti itulah bayangan resiko menjadi seorang UX Designer. Ia bertanggung jawab pada tampilan sebuah layanan atau produk digital dengan mengerjakan hal-hal yang tidak mudah di belakangnya. Kendati UX Designer adalah salah satu pekerjaan yang dianggap ‘keren’ oleh anak muda zaman now, tetapi ada baiknya kita mengenal lebih jauh tentang apa saja yang menjadi tanggungjawab seorang UX Designer sehingga tidak latah dalam menentukan pilihan.

Mengenal UX Designer

User Experience (UX) secara umum adalah keseluruhan pengalaman pengguna atau user dalam berinteraksi dengan produk dan layanan digital.

“Apapun pengalaman yang dirasakan pengguna tidak sekedar aplikasi tetapi juga termasuk service design-nya, makin kesini makin berkembang jargon dan labeling baru yang saya pahami adalah kita mencoba menyeimbangkan antara human factors dengan kebutuhan bisnis dan tugas dengan teknologi,” kata Irfan Gani Purwanda, seorang UX Lead dan UX Designer di Chapter Design and Experience (DEX) Telkom.

Irfan yang merupakan UX Lead di DEX menangangi beberapa tribe dan proyek yang ditugaskan kepadanya, di mana masing-masing tribe juga terdiri atas beberapa squad. Ia menggambarkan mekanisme kerja seorang UX Designer yang sebetulnya mencakup UX Researcher, UX Writer, dan termasuk UX Designer-nya itu sendiri.

Fungsi role UX Lead yang Ia miliki ialah menentukan product roadmap yang sudah ditentukan oleh takeholder. Lingkup pekerjaannya yaitu end to end, dari awal sampai akhir, “di fase awal kami juga terkadang melakukan riset, sebagai observer yang berkolaborasi dengan UX Researcher dan selama pengembangan product terus berkonsultasi dan tidak melepaskan diri dari UX Researcher. Ketika masuk di fase UX Design juga memegang penuh kendali yang intinya bagaimana agar tim produk memahami user dengan baik”.

Lebih lanjut, Irfan juga mengatakan, “karena suara user itu dibawa dalam sebuah pengalaman produk, maka sebagai seorang UX Designer Ia juga harus mampu menjadi User Advokat. Di saat orang lain berbicara dari sisi bisnis, requirement segala macam, seorang UX Designer lah yang membawa suara-suara user”.

Mendengar dan memahami suara user sangatlah penting bagi seorang UX Designer. Selain itu Ia juga perlu melakukan diskusi mendalam dengan para Product Owner untuk melihat data dari kacamata user. Ketika hal ini sudah berjalan, seorang UX Designer juga perlu memahami perjalanan UX bahkan sampai ke tahap User Interface. Hal ini menjadi penting supaya ke depannya tidak sekedar meraih sebuah visual design semata, namun juga memiliki andil dalam mempertimbangkan hal-hal lain sehingga design yang dihasilkan memiliki argumentasi yang kuat.

Apa itu Advokat User?

Berargumentasi memang acap terjadi dan dialami seorang UX Designer. Hal ini berkaitan dengan istilah ‘Advokat User’ yang sebelumnya disinggung Irfan. Apa sebetulnya yang Ia maksud?

Sebagai sebuah use case. Suatu hari datang sebuah produk yang mengeluhkan dan merasa ada permasalahan terkait UI/UX dalam performa produk digital mereka. Hipotesis mereka adalah desainnya yang kurang bagus dan perlu dilakukan redesign. Apakah Irfan ujug-ujug langsung melakukan redesign? Tentu saja tidak!

Hal yang selalu ditanyakan oleh Irfan sebagai Lead UX adalah mempertanyakan objektif sehingga kelak yang akan Irfan dan tim lakukan tidak sekedar touch up atau memperbagus tampilan visualnya saja. Setelah itu melakukan audit dan memvalidasi ulang ke user/pengguna untuk mengetahui hal apa yang menyebabkan permasalahan tersebut.

Di beberapa kesempatan, Irfan memang menemukan bahwa benar sisi desain memang menjadi permasalahan sebuah produk kurang engage dengan penggunanya yang membuat user pun kurang paham atau fitur kurang ter-highlight, “yang seperti ini secara teknis UI/UX kita di DEX bisa segera bantu”.

Namun, ada kondisi lain yang menyebabkan Irfan sebagai squad leader UX harus berargumentasi saat riset yang Ia lakukan bersama tim menemukan indikasi bahwa produk tersebut under value. Teranglah sebagai Product Owner tidak akan serta merta menerima hipotesis ini. Sehingga seorang UX Designer harus mampu memaparkan data-data yang diperoleh untuk disampaikan kepada Product Owner jika produk atau layanan yang diberikan itu tidak matching dengan kebutuhan user.

“Misal, suatu produk digital menawarkan voucher-voucher sebagai layanan utama-nya yang sebetulnya voucher-voucher itu bisa diperoleh pengguna di tempat lain. Tentu saja ini menjadi challange bagi kami, karena terkadang riset seperti itu kurang bisa diterima oleh stakeholder dan kita perlu membuktikan itu,” jelas Irfan.

Pembuktian yang dilakukan Irfan CS adalah dengan membuatkan desain yang lebih bagus dan kemudian melakukan happy user test. Apakah produk digital tersebut mengalami perbaikan ataukah sama saja. “Kita melakukam improvement dan membuktikan kalau memang permasalahannya produk value, mau design sebagus apapun, user tidak akan membeli itu”.

Sebisa mungkin, seorang UX Designer harus memiliki sikap asertif dalam bekerja sehingga tidak semata menjadi pabrik fitur belaka. Justru harus menjaga agar produk dan layanan yang dibuat memang berdasarkan pengguna yang nyata bukan atas asumsi-asumsi.

Meskipun pada perjalanannya harus pula dipahami jika stakeholder memang berhubungan langsung dengan market dan dituntut revenue sehingga dari sisi bisnis perlu melakukan differensiasi produk dan layanan. Maka, penting bagi UX Designer mengenali apakah hipotesis yang diberikan oleh stakeholder sudah melewati proses validasi market atau belum. Sebab menurut Irfan, perjalanan sebuah produk atau layanan digital akan baik jika didahului dengan kajian bisnis yang sesuai.

“Karena kalau di bagian itu bermasalah dan kita paksakan bawah terus UI/UX masuk mau dibuat sebagus apapun hipotesisnya tidak akan menghasilkan sesuatu yang signifikan, walaupun ada beberapa anomali, tetapi itu jarang banget. Jadi memang setelah proses ini perlu duduk bareng bersama stakeholder untuk mempertimbangkan suara user sehingga untuk jangka panjang, produk ini bisa sustained,” terang Irfan.

Bisakah Saya Menjadi UX Designer?

Bisa saja, tetapi apakah ini adalah passion mu, Leapers?

Untuk menjawab hal ini, Irfan memiliki pandangan bahwa sebelum terjun ke dunia UI/UX, khususnya para fresh graduate perlu untuk mengenali motivasi paling utama. Sebaiknya memang datang dari diri sendiri.

Cara mengidentifikasi motivasi tersebut adalah kenali terlebih dahulu UI/UX itu seperti apa, perbanyak membaca dan menonton pihak-pihak yang memang legitimate terlebih untuk UX Designer. Belajar baik daring ataupun langsung kepada orang-orang yang memiliki track record bagus, dari artikel yang positif dan akan lebih baik lagi jika memiliki mentor.

Menjadi UX Designer akan lebih mudah bagi mereka yang menguasai skill menggambar, meskipun pada akhirnya skill ini bukanlah satu-satunya. “Menggambar benar-benar penting dan harus dikuasai, tetapi sebetulnya itu hanya tools yang kita pakai. Yang paling penting adalah memahami mindset dan metodologinya dengan baik sehingga faham dalam menggunakan tools,” tambah Irfan.

Masih menurut Irfan, terkait expertise secara sederhana sebetulnya UX Designer adalah sebagai problem solver. Kemampuan memecahkan masalah tersebut harus diikuti dengan kemampuan mengidentifikasi dan mendefinisikan, serta memvalidasi masalah yang berguna dalam menentukan langkah ke depan. Sebab, jika UI/UX dimanfaatkan dengan baik sebetulnya bisa membantu dalam efisiensi kerja, memprediksi dan meramalapa-apa saja yang dibutuhkan sehingga bisa menghasilkan tepat waktu dan sesuai. Dari sisi perusahaan pun bisa mengoptimasi resource dan anggaran.

Selain itu sebagai problem solver, seorang UX Designer dituntut untuk memiliki kecakapan komunikasi dan bekerjasama dengan tim. Core Function dari UX Designer adalah memfasilitasi tim untuk mencari solusi dari sebuah masalah, baik dengan hard skill dan soft skill yang dimiliki. Ia tidak sekedar menggambar tetapi juga menggunakan kemampuannya untuk bisa dielabotasi sehingga mampu memberi arahan dan menghasilkan solusi yang tepat.

Kemudian yang terakhir, penting bagi seorang UX Designer untuk memiliki intuisi dan menjadi visioner, be futurologist, meminjam istilah Steve Jobs.

Pada intinya, sebagai seorang UX Designer, Ia berperan untuk menyeimbangkan 3 faktor. Antara lain, human factor di mana manusia sebagai pengguna, kebutuhan bisnis stakeholder, dan penerapan teknologi yang cocok. Meskipun porsi terbesarnya ada pada human factor.

Perkembangan teknologi yang begitu pesat membuat banyak sekali pembuat produk digital merasa perlu untuk mengimbangi dan memasukkan ke dalam layanannya. Namun, kecanggihan tersebut haruslah disesuaikan lagi dengan kebutuhan pengguna dan UX perlu membantu dalam mengkalibrasi.

“Menurut saya ini penting agar apa yang dikembangkan nantinya tidak melenceng dari data sehingga kita tidak perlu takut jika harus ‘membunuh ‘ produk kita jika memang sudah tidak memiliki value sebagai produk digital. Bagaimana pun kita harus melihat lebih luas sebagai satu kesatuan Telkom Group, bagaimana secara ekosistem kita mencari produk yang terunggul dan terbaik sehingga secara OKR kita menciptakan produk yang benar-benar bisa sustaine,” tutup Irfan.

Buat kamu seorang UX Designer seperti Irfan dan ingin memberi impact yang lebih luas terhadap bangsa, inilah kesempatanmu untuk bergabung bersama Telkom! Pastikan ide dan gagasan kamu berada dalam tim yang andal bersama Telkom, segera apply dengan klik button di bawah ini!

Bagi Leapers yang masih penasaran dengan cerita lainnya, kunjungi medium kami dan follow untuk mengikuti keseruan lainnya ya!

Formulir Pertanyaan